Jumat, 04 September 2009

mencari bagian dari lailatul qadar

Allah berfirman Q.S. Al-Qadr:3 yang artinya:"lailatul qadr lebih baik dari seribu bulan". biasanya banyak mubaligh atau khotib kultum yang kemudian mengutip hadist dari imam baihaqi yang meriwayatkan bahwa dulu, ada seorang dari bani israil yang mengangkat senjata selama 1000 bulan lamanya tak pernah putus. kemudian Allah menurunkan kepada umat nabi Muhammad satu malam saja yang nilainya lebih baik daripada 1000 bulan orang bani israil tadi. setelah saya baca haditsnya, ternyata baihaqi sendiri mengatakan bahwa hadist tersebut mursal. sehingga tidak dapat digunakan sebagai dalil, walaupun mungkin saja maknanya benar.
sementara itu, Kyai ghozali bin Hasan Ustadz dalam kitab tafsir Al-Quran wa Sunnatu Sayyidil Anam, ternyata juga menuliskan riwayat tersebut. hanya saja, sampai sekarang saya belum ketemu darimana beliau mendapatkan riwayat tersebut (padahal biasanya beliau selalu memberikan footnote dari hadits-hadist yang dipilih dengan rujukan-rujukan yang sangat mudah bagi pembacanya untuk mencari dari kitab aslinya, silakan dikomparasikan dengan kitab-kitab karangan beliau yang lain, misalkan Al-Islam wal Muslim, At-tijan fi Syu'abil Iman, Al-Imamah,dll-atau mungkin karena saya belum menemukan kitab aslinya ya-yang saya punya terjemahane..hehe)
kemudian yang penting menurut saya, adalah pencuplikan hadist (dari baihaqi juga) yang artinya : (dari anas bin malik. nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : barangsiapa menjaga sholat maghrib dan isya' secara berjamaah hingga selesainya ramadhan, maka sungguh dia akan mendapatkan dari lailatul qadar bagian yang banyak)
dan sudah saya check, hadits tersebut diambil dari kitab syu'abil iman karya imam baihaqi atau majmu' al ahadits karya imam As-Suyuthi dan tidak ada komentar.
selain daripada hadits tersebut, ada satu hadits lain yang bertema sama, hanya saja dua sholat yang harus dijaga berbeda, yakni sholat isya' dan shubuh (komparasikan dengan hadits dari imam baihaqi yang menyebutkan maghrib dan isya').
dari kedua hadits di atas, dapat disimpulkan bahwa untuk mengejar malam lailatul qadar yang sangat berharga, maka bekal yang dipersiapkan mesti cukup, yakni menjaga sholat kita untuk selalu berjamaah.
hal tersebut kiranya tidaklah terlalu berlebihan. shaum ramadhan sendiri sejak mulanya memang ibadah berjama'ah walaupun dilaksanakan secara mandiri.
any comment?