Wafatnya Nabi Muhammad
Kurang lebih 3 bulan setelah rasulullah melaksanakan haji, rasulllah menderita sakit. Ketika masih cukup kuat untuk keluar, beliau meminta para sahabatnya untuk mengqishash beliau jika beliau ada kesalahan dan juga jika beliau masih memiliki utang maka hendaklah para sahabat menagih beliau. Beliau juga berkhutbah di depan para sahabat “semoga Allah membinasakan orang-orang yahudi dan nasrani. Mereka telah menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid”
Ketika sakitnya semakin keras, rasulullah berdiam di rumah ‘Aisyah dan memerintahkan Abu Bakar untuk menggantikan rasulullah menjadi imam shalat. Walaupun demikian, pada masa sakitnya rasulullah masih sempat memberangkatkan sariyyah terakhir yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid bin Haritsah (putra dari zaid bin haritsah –anak angkat nabi- dengan anggota pasukannya adalah para sahabat yang sudah senior seperti umar bin khaththab).
Wasiat-wasiat rasulullah sebelum wafat antara lain :
a. agar orang-orang yahudi, nasrani dan musyrik dikeluarkan dari jazirah arab (tidak boleh ada dua agama di bumi arab)
b. untuk menghormati para utusan
c. berpegang teguh terhadap al-Quran dan as-Sunnah
d. jagalah shalat dan budak-budak kalian
sehari sebelum wafat rasulullah membebaskan para budaknya dan bersedekah dengan harta yang ada pada beliau.
Pada akhir hayatnya beliau bersabda :” bersama dengan orang yang telah Engkau anaugerahi nikmat yaitu para nabi, ash-shiddiqin, syuhada’ dan shalihin. Ya Allah ampunilah dan kasihanilah aku. Pertemukan aku dengan Kekasih yang Maha Tinggi, Ya Allah Kekasih yang Maha Tinggi”.
Beliau wafat di waktu dhuha pada hari senin bulan rabi’ul awwal tahun ke 11 H. Para sahabat berduka dan sebagian menolak wafatnya nabi hingga Abu Bakar membacakan Q.S ‘Ali Imran : 144.
Sahabat yang memandikan rasulullah adalah Ali bin Abi Thalib, al-Abbas, al-Fadhl bin Abbas, Qutsam bin Abbas, Usamah bin Zaid dan Syaqran (mantan budak nabi). Pakaian rasulullah tidak dilepas ketika dimandikan, dan kemudian rasulullah dikafani dengan tiga helai kain secara berlapis. Kemudian rasulullah dishalatkan secara bergantian tanpa imam. Rasulullah dimakamkan di bawah tempat wafatnya sesuai dengan sabda nabi dari Abu Bakar bahwa tidaklah seorang nabi wafat kecuali dikubur di tempat ia wafat.
Innā lillāhi wa innā ilayhi rāji’ūn.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar